Marketing Sekolah antara Popularitas dan Kredibilitas. Di era digital, sekolah semakin aktif memanfaatkan media sosial dan iklan daring sebagai instrumen pemasaran. Tidak sedikit lembaga pendidikan yang mengalokasikan anggaran besar demi meningkatkan visibilitas digital. Namun, laporan We Are Social (2024) dan Edelman Trust Barometer (2023) menunjukkan adanya kesenjangan antara tingginya paparan iklan dan rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap iklan digital. Kondisi ini menegaskan bahwa popularitas daring belum tentu berbanding lurus dengan keputusan orang tua dalam memilih sekolah.
Cak Rud
Cak Rud
Seorang traveler dan sports enthusiast, hobi mengeksplorasi kuliner dan destinasi baru. Dosen Ilmu Komunikasi di Surabaya dengan passion di kepenulisan, teknologi komunikasi, dan digital marketing. Percaya bahwa "Experience is The Best Teacher"
Gelar Tinggi, Gengsi, dan Kerja Nyata. Masalah utama pendidikan tinggi bukan pada ilmunya, tetapi pada cara gelar dimaknai. Saat gelar berubah menjadi simbol gengsi, sebagian orang enggan bekerja di luar bayangan statusnya. Pendidikan pun kehilangan daya dorong praktisnya. Lalu, apa arti pendidikan tinggi jika menjauhkan seseorang dari kerja nyata dan tanggung jawab sosial?
Strategi Adaptasi dan Transformasi Perguruan Tinggi Kecil. Perguruan tinggi kecil hari ini berada di persimpangan kebijakan yang tidak sederhana. Di satu sisi, pemerintah terus menaikkan standar mutu pendidikan tinggi dengan tujuan memperbaiki kualitas lulusan dan tata kelola institusi. Di sisi lain, kampus kecil terseok karena keterbatasan sumber daya, kapasitas keuangan, dan daya saing yang tidak sebanding dengan tuntutan regulasi. Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar, apakah kampus kecil memang akan tersingkir oleh seleksi sistem, atau masih memiliki ruang strategis untuk bertahan dan bertransformasi?
Apakah Sains Mengancam Iman? Dialog Akal dan Wahyu. Buku ini membahas hubungan Islam dan sains modern secara tenang dan tertata, tanpa merendahkan iman. Gaya bahasanya akademis, tetapi tidak kaku, seperti perkuliahan yang jelas dan enak diikuti. Buku ini penting karena membantu pembaca keluar dari dua sikap ekstrem, menolak sains secara emosional atau memaksakan ayat Al-Qur’an agar terlihat selalu sesuai dengan temuan ilmiah.
Empat Kesalahan Konsep dalam Pemasaran Sekolah. Banyak sekolah merasa sudah melakukan marketing, padahal yang dilakukan baru sebatas promosi. Marketing sekolah sering dipahami hanya sekedar memasang spanduk PPDB, menyebar brosur pendaftaran, dan aktif di media social untuk menarik pendaftar. Padahal marketing sekolah berkaitan dengan mutu layanan, pengalaman orang tua, maupun reputasi lembaga. Berikut ini adalah empat kesalahan konsep dalam pemasaran sekolah yang perlu diluruskan.
Strategi Komunikasi Pemasaran Sekolah Islam. Persaingan sekolah Islam di kota makin sengit, dan promosi sering berubah jadi “adu spanduk” yang mahal tapi belum tentu tepat sasaran. Karena itu, sekolah perlu cara komunikasi yang lebih rapi. Bukan sekadar ramai iklan, tetapi mengatur pesan, kanal, dan relasi dengan orang tua secara terencana. Gambaran ini dibahas dalam sebuah riset berjudul Perencanaan Strategi Komunikasi Pemasaran Sekolah Islam di Surabaya, dimuat di An-Nida’ : Jurnal Prodi Komunikasi Penyiaran Islam. Intinya, komunikasi sekolah bisa jadi penentu daya saing dan keberlanjutan lembaga, selama dijalankan dengan akal sehat, data, dan tujuan yang jelas.
Indonesia di Era Presiden Prabowo: Bangkit Sekarang atau Terpuruk Kemudian. Buku ini sangat layak dibaca karena berhasil mengubah isu politik harian menjadi renungan tentang arah bangsa yang lebih dalam. Vibenya tegas, bernada nasihat kebangsaan yang religius, dan terasa seperti catatan seorang pengamat yang ingin negeri ini selamat, bukan sekadar ramai. Alasan untuk peduli jelas, buku ini memaksa pembaca melihat bahwa perubahan pemerintahan tidak akan berarti besar jika yang dibenahi hanya program, sementara kualitas manusia dan budaya hidup justru dibiarkan.
Konten Islam di Medsos Antara Viral atau Valid. Di media sosial, konten agama beredar seperti air bah. Ada yang menenangkan, ada yang menginspirasi, tapi tidak sedikit juga yang bikin bingung dan memancing emosi. Masalahnya, sekarang siapa pun bisa bicara soal agama, cukup punya akun dan sedikit keberanian. Akibatnya, kutipan ayat atau hadis yang salah, potongan ceramah tanpa konteks, bahkan hoax berkedok dakwah bisa ikut tersebar. Kalau dibiarkan, ruang digital kita akan dipenuhi “nasihat” yang kelihatannya Islami, tapi isinya bisa menyesatkan.
Kalau Indonesia Emas Cuma Angka, Buku Ini Menampar Anda. Buku karya Dr. Adian Husaini – Ketua DDII ini sangat layak dibaca karena mengajak berpikir serius tentang makna “maju” tanpa terjebak euforia slogan. Vibenya tegas, kontemplatif, dan terasa seperti nasihat panjang seorang guru yang bicara dari pengalaman, bukan dari panggung. Alasan untuk peduli sederhana tetapi kuat, buku ini memindahkan mimpi Indonesia Emas dari angka dan proyek menuju kualitas manusia, terutama pendidikan, akhlak, dan arah peradaban.
Analisis Business Model Canvas pada Proses Mediamorfosis Majalah Suara Hidayatullah. Kita sering bilang media cetak sudah tamat karena orang makin doyan berita lewat ponsel. Pada kenyataannya banyak media justru memilih bertransformasi, bukan menyerah. Itulah mediamorfosis. Media lama tidak langsung mati, melainkan menyesuaikan diri dengan teknologi, kebiasaan pembaca, dan tekanan ekonomi. Riset yang diterbitkan dalam jurnal An-Nida’ (2025) menyorot contoh menarik: Majalah Suara Hidayatullah tetap bertahan dengan membangun ekosistem digital dan diversifikasi bisnis. Pelajaran besarnya adalah di era serba cepat, yang bertahan bukan yang paling besar tapi yang paling mampu beradaptasi.
