Indonesia di Era Presiden Prabowo: Bangkit Sekarang atau Terpuruk Kemudian. Buku ini sangat layak dibaca karena berhasil mengubah isu politik harian menjadi renungan tentang arah bangsa yang lebih dalam. Vibenya tegas, bernada nasihat kebangsaan yang religius, dan terasa seperti catatan seorang pengamat yang ingin negeri ini selamat, bukan sekadar ramai. Alasan untuk peduli jelas, buku ini memaksa pembaca melihat bahwa perubahan pemerintahan tidak akan berarti besar jika yang dibenahi hanya program, sementara kualitas manusia dan budaya hidup justru dibiarkan.
Cak Rud
Cak Rud
Seorang traveler dan sports enthusiast, hobi mengeksplorasi kuliner dan destinasi baru. Dosen Ilmu Komunikasi di Surabaya dengan passion di kepenulisan, teknologi komunikasi, dan digital marketing. Percaya bahwa "Experience is The Best Teacher"
Konten Islam di Medsos Antara Viral atau Valid. Di media sosial, konten agama beredar seperti air bah. Ada yang menenangkan, ada yang menginspirasi, tapi tidak sedikit juga yang bikin bingung dan memancing emosi. Masalahnya, sekarang siapa pun bisa bicara soal agama, cukup punya akun dan sedikit keberanian. Akibatnya, kutipan ayat atau hadis yang salah, potongan ceramah tanpa konteks, bahkan hoax berkedok dakwah bisa ikut tersebar. Kalau dibiarkan, ruang digital kita akan dipenuhi “nasihat” yang kelihatannya Islami, tapi isinya bisa menyesatkan.
Kalau Indonesia Emas Cuma Angka, Buku Ini Menampar Anda. Buku karya Dr. Adian Husaini – Ketua DDII ini sangat layak dibaca karena mengajak berpikir serius tentang makna “maju” tanpa terjebak euforia slogan. Vibenya tegas, kontemplatif, dan terasa seperti nasihat panjang seorang guru yang bicara dari pengalaman, bukan dari panggung. Alasan untuk peduli sederhana tetapi kuat, buku ini memindahkan mimpi Indonesia Emas dari angka dan proyek menuju kualitas manusia, terutama pendidikan, akhlak, dan arah peradaban.
Analisis Business Model Canvas pada Proses Mediamorfosis Majalah Suara Hidayatullah. Kita sering bilang media cetak sudah tamat karena orang makin doyan berita lewat ponsel. Pada kenyataannya banyak media justru memilih bertransformasi, bukan menyerah. Itulah mediamorfosis. Media lama tidak langsung mati, melainkan menyesuaikan diri dengan teknologi, kebiasaan pembaca, dan tekanan ekonomi. Riset yang diterbitkan dalam jurnal An-Nida’ (2025) menyorot contoh menarik: Majalah Suara Hidayatullah tetap bertahan dengan membangun ekosistem digital dan diversifikasi bisnis. Pelajaran besarnya adalah di era serba cepat, yang bertahan bukan yang paling besar tapi yang paling mampu beradaptasi.
Ketika Majalah Dakwah Menolak Punah. Media cetak hari ini tidak sedang baik-baik saja. Mereka dipaksa berlari mengejar pembaca yang pindah ke layar ponsel. Orang ingin informasi yang cepat, singkat, dan mudah diakses lewat internet dan media sosial. Salah satu media cetak dakwah menolak punah. Majalah Suara Hidayatullah memilih jalur adaptasi, ber-mediamorfosis. Sekaligus membenahi cara bisnisnya dengan jurus Business Model Canvas. Jadi pertanyaannya bukan lagi media cetak mati atau tidak, melainkan siapa yang mampu beradaptasi.
