Tafsir Dakwah untuk Gen Z: Membaca Ulang Kurikulum Pendidikan Islam

by Cak Rud
0 comment
Tafsir Dakwah untuk Gen Z: Membaca Ulang Kurikulum Pendidikan Islam Lead

Tafsir Dakwah untuk Gen Z: Membaca Ulang Kurikulum Pendidikan Islam. Generasi Z hidup dalam dunia yang gaduh. Media sosial, algoritma, banjir informasi, dan otoritas agama yang makin terpecah. Artikel ilmiah karya Mashud, Rudi Trianto, Cecep Soleh Kurniawan, dan Moh. Syahri Sauma ini menawarkan gagasan penting. Pendidikan Islam tidak cukup hanya mengajarkan tafsir sebagai penjelasan teks, tetapi perlu menjadikannya sebagai dasar kurikulum yang mampu membentuk nalar moral, komunikasi dakwah, dan tanggung jawab digital Gen Z. Artikel ini menggunakan kajian literatur sistematis berbasis PRISMA terhadap 46 studi inti dari 2020 sampai Februari 2026.

Mengapa Tafsir Perlu Turun ke Realitas Gen Z?

Titik kuat artikel ini ada pada keberaniannya membaca krisis moral Gen Z bukan sekadar sebagai masalah perilaku pribadi. Krisis itu dipahami sebagai gejala yang lebih luas yakni globalisasi budaya, media algoritmik, otoritas agama yang terfragmentasi, serta lemahnya internalisasi nilai dalam pendidikan Islam konvensional.

Selama ini, pembelajaran tafsir di banyak lembaga Islam masih kuat dengan pola klasik seperti sorogan, bandongan, dan wetonan. Tradisi ini tentu penting karena menjaga sanad, disiplin teks, dan kesinambungan keilmuan. Namun, artikel ini mengingatkan bahwa murid hari ini tidak cukup hanya menerima warisan tafsir; mereka perlu dilatih membaca nilai Al-Qur’an dalam masalah nyata: hoaks, cyberbullying, konsumerisme, relativisme moral, dan banjir konten agama di media sosial.

Baca juga: Strategi Komunikasi Pemasaran Sekolah Islam.

Di sinilah gagasan tafsir berorientasi dakwah menjadi menarik. Tafsir tidak berhenti sebagai penjelasan ayat, tetapi menjadi cara berpikir untuk membaca realitas, menyusun pesan, dan membentuk perilaku. Bahasa sederhananya: Al-Qur’an tidak hanya dipelajari, tetapi dilatih agar hadir dalam cara Gen Z berpikir, berbicara, dan bertindak.

Model Kurikulum Dari Teks ke Pengalaman Pendidikan

Artikel ini menawarkan model yang cukup sistematis. Tafsir, dakwah, dan pendidikan tidak lagi dipisah sebagai tiga wilayah sendiri-sendiri. Ketiganya disatukan dalam satu desain kurikulum: nilai Al-Qur’an ditafsirkan, dikomunikasikan, dipelajari, dibiasakan, dan dinilai secara utuh.

Ada lima komponen utama yang ditawarkan: tafsir tematik dan maqāṣid, komunikasi dakwah, pembelajaran partisipatif, budaya institusi, dan penilaian autentik. Misalnya tema “kejujuran” tidak hanya dibahas melalui ayat dan tafsir, tetapi juga dikaitkan dengan kasus misinformasi digital, diskusi kelompok, proyek dakwah digital, dan refleksi perilaku siswa.

Tafsir Dakwah untuk Gen Z: Membaca Ulang Kurikulum Pendidikan IslamLead

Tafsir Dakwah untuk Gen Z: Membaca Ulang Kurikulum Pendidikan Islam
Lead

Bagan pada halaman 10 memperlihatkan alur model ini dengan cukup jelas: mulai dari input dasar berupa tema Qur’ani dan konteks digital Gen Z, lalu masuk ke desain kurikulum, mediasi pedagogis, budaya institusi, hingga hasil berupa nalar moral, moderasi beragama, tanggung jawab sosial, literasi digital, dan kompetensi dakwah.

Kekuatan model ini adalah tidak menjadikan kurikulum sebagai dokumen administratif semata. Kurikulum dipahami sebagai ekosistem. Ada kelas, ada budaya lembaga, ada pembiasaan, ada proyek, ada evaluasi. Ini membuat pendidikan Islam terasa lebih hidup.

Catatan Kritis: Kuat secara Konsep, Perlu Diuji di Lapangan

Sebagai artikel konseptual berbasis literature review, tulisan ini memiliki kontribusi penting. Ia menyatukan diskusi tafsir, dakwah digital, kurikulum, dan moralitas Gen Z dalam satu kerangka. Metodenya juga cukup rapi karena menggunakan prosedur PRISMA-informed, database akademik yang luas, dan sintesis tematik terhadap 46 studi inti.

Baca juga: Analisis Business Model Canvas pada Proses Mediamorfosis Majalah Suara Hidayatullah.

Namun, artikel ini juga menyadari keterbatasannya. Sumber yang dikaji masih dominan dari konteks Indonesia, terutama pesantren, madrasah, dan pendidikan Islam lokal. Selain itu, model yang ditawarkan belum diuji melalui implementasi kelas atau pengukuran jangka panjang terhadap perubahan perilaku siswa.

Catatan ini penting. Sebab gagasan “tafsir dakwah sebagai fondasi kurikulum” terdengar kuat, tetapi efektivitasnya tetap perlu dibuktikan melalui pilot project, observasi kelas, portofolio siswa, dan evaluasi campuran. Artikel ini menyebut perlunya riset lanjutan berbasis implementasi kurikulum dan studi komparatif lintas sistem pendidikan Islam.

Dengan demikian, artikel ini layak dibaca sebagai peta awal. Ia belum menjadi resep final, tetapi memberi arah baru: pendidikan Islam perlu bergerak dari sekadar mengajarkan tafsir menuju menghidupkan nilai Al-Qur’an dalam pengalaman belajar Gen Z.

Sumber artikel Tafsir Dakwah untuk Gen Z: Membaca Ulang Kurikulum Pendidikan Islam  https://research.adra.ac.id/index.php/ijen/article/view/3523/3266

You may also like

Leave a Comment