Seperti Apa Dakwah Islam di Era Media Sosial? Media sosial telah mengubah cara umat Islam belajar agama. Jika dahulu masyarakat lebih banyak datang ke masjid, pesantren, atau majelis taklim untuk mendengarkan ceramah, kini cukup membuka YouTube, TikTok, Instagram, atau Facebook. Ribuan konten dakwah hadir setiap hari dengan beragam gaya penyampaian. Fenomena ini memperluas akses terhadap ilmu agama, tetapi juga memunculkan pertanyaan baru: siapa yang layak menjadi rujukan? Apakah jumlah pengikut dan jutaan penonton sudah cukup menjadi ukuran otoritas keagamaan? Perubahan tersebut bukan sekadar soal teknologi, melainkan juga tentang bergesernya cara masyarakat membangun kepercayaan terhadap ulama dan pendakwah di ruang digital.
Media Sosial Mengubah Wajah Dakwah Islam
Dakwah tidak lagi dibatasi oleh mimbar masjid atau ruang pengajian. Siapa pun kini dapat menyampaikan ceramah dari kamar tidur, studio sederhana, bahkan dari dalam mobil melalui siaran langsung. Dalam hitungan detik, pesan yang dibuat di Surabaya dapat ditonton jutaan orang di berbagai negara.
Perubahan ini membawa banyak manfaat. Masyarakat menjadi lebih mudah memperoleh kajian agama sesuai kebutuhan dan waktu yang dimiliki. Anak muda yang sebelumnya jarang menghadiri pengajian kini dapat mengakses materi keislaman melalui video pendek yang lebih akrab dengan keseharian mereka. Media sosial juga membuka ruang bagi ulama, pesantren, dan organisasi Islam untuk menjangkau kelompok yang selama ini sulit disentuh melalui dakwah konvensional.
Baca juga: Tafsir Dakwah untuk Gen Z: Membaca Ulang Kurikulum Pendidikan Islam
Meski begitu, media sosial memiliki “aturan main” sendiri. Konten yang singkat, visual menarik, judul yang memancing rasa penasaran, serta interaksi tinggi lebih mudah mendapatkan perhatian algoritma. Kondisi tersebut membuat pendakwah tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama, tetapi juga mampu mengemas pesan agar menarik perhatian pengguna media sosial. Kemampuan berbicara di depan kamera, menyusun narasi, memilih visual, hingga membangun kedekatan emosional dengan audiens menjadi bagian penting dari dakwah digital.
Akibatnya, ukuran otoritas ikut berubah. Dahulu masyarakat mengenal seorang ulama melalui perjalanan keilmuan, sanad, atau pengakuan lembaga keagamaan. Di media sosial, ukuran tersebut bercampur dengan jumlah pengikut, tayangan video, komentar, dan tingkat interaksi. Popularitas sering kali berjalan berdampingan dengan kredibilitas, meskipun keduanya belum tentu sama. Pergeseran inilah yang menjadi salah satu ciri utama mediatization of religion, yakni ketika media tidak sekadar menjadi saluran dakwah, tetapi ikut membentuk cara agama dipahami dan disampaikan kepada publik.

Seperti Apa Dakwah Islam di Era Media Sosial
Popularitas Bukan Selalu Tanda Otoritas Keagamaan
Tidak sedikit pendakwah yang memperoleh jutaan pengikut dalam waktu singkat. Gaya penyampaian yang santai, humor yang segar, serta pembahasan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat mereka mudah diterima masyarakat. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat digital cenderung memilih sosok yang terasa dekat dan mudah dipahami.
Di sisi lain, muncul tantangan yang tidak bisa diabaikan. Ketika siapa pun dapat berbicara atas nama agama, batas antara ulama, motivator, selebritas hijrah, influencer, dan kreator konten menjadi semakin kabur. Ada kalanya masyarakat lebih percaya pada video yang viral dibandingkan penjelasan ulama yang memiliki dasar keilmuan kuat. Padahal, jumlah penonton tidak selalu mencerminkan kedalaman ilmu ataupun ketepatan isi ceramah.
Lembaga seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), pesantren, dan organisasi Islam tetap memiliki posisi penting karena dibangun melalui proses panjang, tradisi keilmuan, serta pengakuan masyarakat. Kehadiran mereka menjadi penyeimbang di tengah derasnya arus informasi keagamaan yang beredar di internet. Menariknya, banyak ulama tradisional juga mulai aktif memanfaatkan media digital. Mereka tidak menolak teknologi, tetapi menggunakannya sebagai sarana memperluas dakwah dengan tetap menjaga kualitas keilmuan. Platform seperti Cariustadz.id menjadi salah satu contoh bagaimana otoritas keagamaan tradisional beradaptasi di ruang digital.
Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa otoritas lama tidak hilang begitu saja. Yang terjadi adalah proses adaptasi. Ulama tetap memegang peranan penting, sementara media sosial menjadi ruang baru untuk memperluas jangkauan dakwah kepada masyarakat yang semakin digital.
Menjadi Muslim yang Cerdas di Tengah Arus Dakwah Digital
Media sosial memberi kekuatan baru kepada audiens. Pengguna tidak hanya menonton, tetapi juga memberi komentar, membagikan video, membuat potongan ceramah, bahkan membangun citra seorang pendakwah. Dukungan warganet mampu mengangkat seseorang menjadi tokoh agama yang sangat berpengaruh dalam waktu singkat. Sebaliknya, kritik yang masif juga dapat menurunkan kepercayaan publik.
Peran besar audiens membawa tanggung jawab yang sama besarnya. Masyarakat tidak cukup hanya menyukai konten yang menarik secara visual atau emosional. Setiap informasi keagamaan perlu diperiksa sumbernya, dibandingkan dengan rujukan yang tepercaya, dan dipahami secara utuh. Sikap kritis menjadi kebutuhan di era ketika potongan video berdurasi satu menit dapat memengaruhi cara seseorang memahami ajaran agama.
Baca juga: Strategi Komunikasi Pemasaran Sekolah Islam
Ada risiko lain yang perlu diwaspadai, yakni munculnya filter bubble dan echo chamber. Algoritma media sosial cenderung menampilkan konten yang sesuai dengan kebiasaan pengguna. Akibatnya, seseorang terus-menerus menerima pandangan yang sama tanpa pernah bertemu sudut pandang lain. Ruang dialog menjadi semakin sempit, sementara polarisasi semakin mudah tumbuh.
Karena itulah literasi digital keagamaan menjadi kebutuhan mendesak. Masyarakat perlu belajar membedakan antara pendapat pribadi dan fatwa, mengenali kapasitas seorang narasumber, serta tidak mudah menganggap viral sebagai kebenaran. Sekolah, pesantren, organisasi keagamaan, keluarga, dan pemerintah memiliki peran untuk membangun budaya bermedia yang sehat.
Dakwah digital adalah peluang besar bagi perkembangan syiar Islam. Ruang ini akan memberi manfaat apabila diisi oleh pesan-pesan yang benar, disampaikan dengan etika, dan diterima oleh masyarakat yang memiliki kemampuan berpikir kritis. Di tengah derasnya arus informasi, ukuran utama seorang pendakwah tetaplah ilmu, akhlak, dan tanggung jawab dalam menyampaikan ajaran agama, bukan sekadar banyaknya pengikut atau ramainya komentar.
Sumber: https://fdikjournal-uinma.id/index.php/tasamuh/article/view/14105/3875
